Girikartonews.co.id,Gunungkidul – Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Gunungkidul melaporkan ada kelompok tani yang mengembangkan tanaman pangan jenis Jali.

Panen tahap pertama pun sudah dilakukan beberapa waktu lalu.

Kepala DPP Gunungkidul, Bambang Wisnu Broto, menjelaskan Jali masih termasuk tanaman biji-bijian (serealia) dari kelompok padi-padian.

“Seperti beras, Jali juga bisa dijadikan sebagai sumber karbohidrat dan merupakan tanaman tropika,” jelas Bambang secara tertulis, Senin (15/06/2020).

Selain alternatif sumber karbohidrat, Bambang menjelaskan Jali bisa dimanfaatkan untuk menangani sejumlah masalah kesehatan.

Antara lain untuk anti radang, obat rematik, hingga menangani masalah saluran pencernaan.

Budidaya Jali di Gunungkidul sudah dicoba oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Bina Mulia di Dusun Gesing, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus.

Pengembangannya dilakukan di lahan pribadi milik warga bernama Sundari.

“Bersama petani lain, saya memanfaatkan Jali di lahan seluas kurang lebih 2 ribu meter persegi,” jelas Sundari.

Berdasarkan hasil panen beberapa hari lalu, ia mendapatkan 500 kilogram biji jali kering.

Biji tersebut kemudian disosoh dan menghasilkan 200 kilogram beras. Hasil panennya itu pun sudah dipesan oleh DPP Gunungkidul.

Sundari mengatakan harga beras Jali tergolong mahal, yaitu mencapai Rp40 ribu per kilo.

Hal ini disebabkan oleh sedikitnya petani yang membudidayakan Jali. Meskipun demikian, kondisi tersebut justru menguntungkan baginya.

“Jika dengan luas lahan 2 ribu meter persegi, penghasilan yang didapat dari penjualan Jali bisa mencapai Rp8 juta,” ungkap Sundari.

Bambang sendiri sempat mengunjungi dan melihat secara langsung lokasi penanaman Jali di lahan milik Sundari.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here