Panitia saat melakukan pengecekan ikan hasil tangkapan peserta GRFT 2019

Girikartonews.co.id, Gunungkidul – Kabupaten Gunungkidul memiliki potensi wisata bahari yang sangat besar, hingga saat ini belum semua potensi tersebut dimanfaatkan oleh masyarakat.

Satu diantara potensi wisata minat khusus adalah wisata tebing pantai yang banyak dimanfaatkan untuk memancing.

Tebing pantai di daerah Gunungkidul seakan akan tak ada habisnya mulai dari daerah timur Gunungkidul yaitu daerah Kecamatan Girisubo hingga wilayah barat daerah Panggang.

Komunitas Handayani Rock Fishing, melihat potensi tersebut dan menggelar  Gunungkidul Rock Fishing Tournament (GRFT) tingkat nasional.

Acara ini diikuti oleh 104 tim dari berbagai daerah.

Memancing di atas tebing tidaklah mudah, para peserta harus dibekali oleh kondisi fisik yang prima serta harus paham cuaca saat akan memancing.

Satu diantara peserta asal, Gamping, Sleman, Pujiana menceritakan dirinya kesulitan saat menuju titik memancing.

Ia bersama timnya harus menaiki bukit berbatu, dengan jalan yang sangat terjal. Setiap langkah harus diperhatikan apakah bebatuan yang dipijak kuat atau tidak. Selain harus menaiki bukit tantangan yang lain adalah ketika sampai di atas tebing, para pemancing harus sangat berhati-hati lantaran angin kencang.

Saat melemparkan umpan juga harus mengawasi sekelilingnya jangan sampai kail nanti mengenai teman lainnya.

Pujiana mengungkapkan dirinya sudah menekuni hobby memancing di atas tebing selama 9 tahun.

Banyak jenis ikan yang berhasil didapat olehnya. Mulai dari jenis ikan Giant Traveling (GT), kakap merah, sidat laut, kerapu.

“Kalau memancing di tebing ibaratnya, sekali lempar seribu harapan untuk mendapatkan seekor ikan. Pengalaman saya pernah mendapatkan ikan sebesar 16 kilogram ikan, sampai saat ini belum pernah mendapatkan ikan sebesar itu lagi,” ungkapnya saat ditemui di Pantai Baron, Minggu (28/7/2019).

Menurutnya ikan yang sering didapat adalah jenis oleng-oleng yaitu semacam sidat laut.

Jika dirinya mendapatkan ikan tersebut ia harus menanggung malu, karena jika pemancing tebing mendapatkan ikan tersebut akan mendapatkan ejekan dari sesama pemancing tebing.

“Kalau mendapat oleng-oleng bisa jadi bahan bully sama teman-teman sesama pemancing,” katanya diiringi tawa.

Dalam kegiatan ini tidak hanya lomba memancing saja tetapi panitia dalam kegiatan ini komunitas Handayani Rock Fishing (HRF) juga berkampanye akan kelestarian lingkungan yaitu menyosialisasikan kepada para pemancing agar tidak membuang sampah plastik di laut atau di lokasi memancing.

Seperti yang diutarakan oleh satu diantara panitia, Fajar Guntoro.

Menurutnya saat ini sampah plastik sedang mendapatkan sorotan oleh pemerintah pusat.

Sehingga ia dan kawan-kawan mengkampanyekan untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan.

“Untuk mengkampanyekan jangan buang sampah plastik sembarangan kami juga menggelar lomba untuk pengawas, siapa yang terbanyak memungut sampah plastik akan diberikan hadiah berupa sepeda,” katanya.

Ia mengatakan sebanyak 104 tim yang ikut GRFT 2019 akan didampingi satu pengawas.

Pengawas tersebut direkrut dari masyarakat sekitar Pantai Baron, Desa Kemadang, Kecamatan Tanjungsari.

“Dengan cara seperti ini maka secara tidak langsung kami mengajak para pemancing untuk tidak membuang sampah plastik sembarangan. Kndisi laut selatan Kabupaten Gunungkidul saat ini masih sangat asri jarang sekali sampah-sampah plastik ditemui untuk itu kelestarian laut harus tetap dijaga,” katanya.

Ia bertugas mensurvey lokasi-lokasi yang cocok untuk digunakan sebagai tempat lokasi memancing di tebing, dan mendapatkan sebanyak 105 lokasi yang digunakan oleh 104 tim.

“Kalau menurut saya Gunungkidul adalah lokasi yang memiliki spot-spot rock fishing terbanyak se Indonesia, karena saya sempat cari-cari di internet tidak ada tempat yang memiliki spot banyak seperti di Gunungkidul,” ungkapnya.

Editor : Aisha Humaira

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here