Warga Pedukuhan Mentobayan, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo menggelar agenda budaya Larungan Sengkala di Sungai Progo, Selasa (20/11/2018). Ritual ini sebagai simbol untuk menciptakan persatuan di tahun politik.

Girikartonews.co.id, Kulon Progo – Warga Pedukuhan Mentoyudan, Desa Salamrejo, Kecamatan Sentolo menggelar agenda budaya Larungan Sengkala di Sungai Progo, Selasa (20/11//2018).

Dari informasi yang dihimpun Tribunjogja.com, ritual ini sebagai simbol untuk menciptakan persatuan di tahun politik.

Dalam kegiatan ini, sebuah ogoh-ogoh atau replika raksasa yang juga dibelit ular raksasa diusung para pemuda dan dikirab berkeliling desa menuju tepian Sungai Progo yang mengalir di wilayah tersebut.

Setelah warga memanjatkan doa bersama, Ogoh-ogoh itu lalu dibakar hingga menyisakan abu berwarna hitam pekat.

Abu itu selanjutnya dilarung ke dalam aliran Sungai Progo.

Pemuka Adat setempat, Ahmad Jaelani mengatakan ogoh-ogoh itu melambangkan segala hal negatif dan aura jahat manusia.

Jelang masa Pemilihan Umum (Pemilu), banyak manusia yang dihinggapi sikap jahat, termasuk munculnya hoax (kabar bohong) yang berpotensi memecah belah kerukunan dan kesatuan masyarakat.

Selain itu, ada beragam bencana yang menimpa bangsa ini beberapa waktu belakangan.

Hal itu harus dihilangkan agar kerukunan dan keharmonisan hidup masyarakat tetap terjaga.

“Maka, ogoh-ogoh dibakar untuk menyirnakan semua kejahatan dan hal negatif. Juga, jelang Pemilu, tidak ada masyarakat yang gontok-gontokan (berseteru) hanya karena beda pilihan,”kata Ahmad.

Selain karena faktor kedekatan geografis, Sungai Progo dipilih sebagai lokasi acara karena dianggap sebagai kali lanang (sungai jantan) lantaran alirannya berasal dari gunung lalu mengalir langsung menuju samudera.

Sedangkan sungai-sungai lain biasanya hanya anak aliran sungai tertentu.

Acara ini baru pertama kali digelar warga setempat atas inisiatif para pemuda.

Juga, menjadi rangkaian cara peresmian perpustakaan desa.

Selain kirab dan larungan, acara dimeriahkan dengan pentas kesenian tradisional dan pagelaran wayang kulit dalang cilik.

“Kami berharap acara ini bisa dijadikan rutinitas setiap tahun karena memilik makna mendalam,”kata Ahmad.

Parmawati, warga Palbapang, Bantul yang sedang berlibur bersama keluarga di Mentoyudan mengaku senang menyaksikan ritual larungan tersebut.

Apalagi, ia baru sekali itu menyaksikan ritual larungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here