Warsana, pengrajin topeng asal Bantul saat ditemui tengah menjajakan dan membuat topeng di Tembi rumah Budaya, Sewon, Bantul.

Girikartonews.co.id,Bantul  – Topeng merupakan ekspresi paling tua yang pernah diciptakan dalam peradaban manusia.

Menjadi satu dari beberapa warisan seni budaya yang ada di Indonesia, namun keberadaan topeng hampir punah digempur zaman karena sepi peminat.

Perajin topeng kayu asal Diro, Pandowoharjo, Sewon, Bantul, Warsana, mengatakan peminat topeng saat ini semakin sedikit.

Terbukti dengan makin susah kerajinan  miliknya terjual.

Namun demikian, dengan penuh keyakinan, ia mengaku masih setia untuk tetap melestarikan kerajinan penutup muka tersebut.

“Saya sudah 20 tahun menggeluti kerajinan topeng. Karena bagi saya, topeng ini adalah karya yang tidak semua orang bisa. Butuh ketelitian,” kata Warsana, saat yang tengah menjajakan topeng di Tembi, rumah budaya, belum lama ini.

Usia Warsana memang tak bisa dikatakan muda lagi.

Namun semangatnya, untuk melestarikan, membuat dan menjajakan topeng hasil karyanya masih tetap tinggi.

Baginya, membuat topeng adalah karsa.

Harus dibuat melalui ketekunan dan sentuhan tangan yang teliti, tidak bisa diciptakan sembarangan dengan mesin.

“Kalau bentuk simetris mungkin mesin bisa. Tapi topeng adalah ekspresi, itu yang tidak bisa dilakukan mesin. Harus handmade,” tuturnya.

Puluhan tahun sudah Warsana menggeluti dunia seni topeng.

Ia biasa menjajakan hasil kerajinannya di sekitar pelataran, di dalam rumah tembi, Sewon, Bantul.

Lelaki sederhana itu biasa membuka lapak dari mulai pukul 09.00 WIB sampai pukul 14.00 siang.

Lapaknya sangat sederhana, hanya beralaskan tikar dan satu meja di depan.

Meja itu digunakan oleh Warsana sebagai alas, tempat untuk meletakkan topeng-topeng hasil karyanya.

Terlihat berbagai macam topeng klasik dipajang, ada Topeng Gunungsari, Condrokirono, Topeng Ragil Kuning dan beberapa topeng tokoh lainnya.

“Semua topeng ini saya kerjakan sendiri dengan tangan,” jelas dia.

Pembuatan topeng Warsana memang masih dilakukan secara manual alias handmade.

Alasannya sederhana, karena ia ingin melestarikan Kerajinan yang sudah puluhan tahun lamanya, ia geluti.

Tak ayal, pembuatan satu karakter topeng, bagi Warsana, memakan waktu cukup lama.

“Satu topeng biasanya dikerjakan selama dua sampai tiga minggu,” tuturnya.

Alhasil, Kerajinan topeng buatan Warsana terlihat indah, original, sangat teliti dan rapi.

Dalam proses pembuatan topeng, dari mulai pemotongan bahan kayu, memahat, mengukir, mengamplas hingga melukis warna.

Warsana mengaku tidak memiliki kesulitan berarti.

“Hanya saja, dalam mengisi rupa cukup sulit, karena seni topeng itu rupa. Sebab itu, bagi yang tidak biasa membuat topeng, akan sangat sulit,” papar dia.

Untuk satu topeng hasil buah karya tangannya, Warsana membanderol dengan harga bervariatif.

Dari mulai harga Rp 500 ribu sampai Rp 5 juta, tergantung tingkat kesulitan yang dikerjakan.

Pelanggan dan penikmat topeng buatannya, diakui Warsana kebanyakan merupakan turis dari mancanegara.

Mereka awalnya penasaran dan takjub sama Kerajinan topeng.

“Kalau orang sini (Indonesia) kan mungkin sudah biasa melihat topeng. Tapi bagi orang luar sana kan mereka takjub. (Mungkin) belum ada di negaranya,” terang dia, lalu tertawa.

Warsana terlihat sesekali sibuk mengamplas topeng miliknya yang belum selesai dikerjakan.

Ia menggosok tiap-tiap permukaan topeng yang belum selesai dibuat dengan pelan dan penuh kehati-hatian.

Adapun, kayu yang digunakan untuk membuat topeng, kata Warsana berasal dari Pohon Jaranan.

Pohon ini seperti Pohon Waru namun memiliki daun seperti daun cabai.

Biasanya, Pohon Jaran ini ditanam dan tumbuh di pinggir-pingir jalan raya, berdampingan dengan Pohon Angsana.

“Kalau kurang bahan. Saya biasanya nyari pohon jaran ini di pelosok-pelosok desa,” ungkap dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here